Kamis, 24 November 2011

Jika Aku Bukan Pagi Untuk Mu

walau gulita malam ini membekam
cercah hingga benar benar sirna
dan tiada celah lagi untuk aku memandang
aksara ku laksana lentera yang hinggap di antara bintang
menggantung di ubun ubun malam
mengisi sunyi yang kian menjalar
memenuhi sudut ruang malam

bila itu adalah duka
maka embun itu adalah air mata
yang akan membuka cahaya untuk mu
mengundang kehangatan untuk menyelimuti pagi mu
tangis ku pun bukan lah dendam, seorang pecundang
pengecut yang slalu bersembunyi di balik kegelapan

tangis ku adalah sebuah kesungguhan
kasih yang tereja menjadi doa
isak yang menjelma menjadi sajak

adalah udara dimana bait ini aku pahat
yang kembara nya tiada letih oleh masa
yang ada nya tiada pernah lelah
walau waktu selalu membuatnya terlupa
tercampak seolah tak bertuah

adalah udara
dimana di setiap helai nya ku titip kan rasa ini
membelai mu dengan segenap kelembutan
menjaga mu dari kerontang
menyuguhkan mu segenap keteduhan
saat bengis nya hari merajam terik
mengkoyak binar ranum kelembutan mu

adalah udara
dimana di setiap lembar yang tak pernah mampu untuk kau lihat
ada bait bait kalam suci
permohonan dari sebuah hati yang bagi mu tak pernah tiada arti

cinta
jika sajak ku kau penggal sebelum pagi
di antara gelap yang mengulum sunyi malam ini
dan jika aku harus menangis malam ini
aku pun akan menangis
meluahkan duka ini pada kepak kepak malam
biar kan terbawa dan diam tercena sepi
dan akan tetap diam
hingga aku kembali melihat mu tersenyum
di beranda pagi bercengkerama dengan sinaran
dan air mata ku pun akan membentuk pelangi
menaungi senja mu
untuk kau genggam dalam bahagiamu
tanpa tiada lagi cerita
tentang aku dalam detik mu

aku bukan lah kenangan mu
aku bukan lah waktu yang seharus nya tercatat
di antara ribuan keindahan cerita diary hati mu
aku hanya lah segenggam rasa
yang sedari dulu selalu memuja mu
dalam selatar rindu tiada kesudahan

kepak kan sayap mu sayang
aku yang burai bersama udara
akan salalu bersamamu
dengan segenap doa doa
untuk mu dan semua tentang kamu

Rabu, 24 Agustus 2011

Tentang Lampu (atau kamu)



Akhirnya kita berpisah di simpang ini, sahabat.

Baik yang kusukai atau tidak.

Sesungguhnya kesukaan bukan mutlak milikku, kau tak perlu tersiksa.

Laju bahasa, lampu merah gerakku.

Aku berhenti karena begitu banyak soal dunia

yang lebih pelik dari teka teki mu

lebih penting dari kedudukan, juga nama

nama baik termasuk nama buruk.



Ketika kami (aku dan beberapa orang sekendara) berjalan

kau pencatat yang rajin, menulis dengan pena ringan, tinta berwarna kebebasan.

Lalulintas prediksi, ibarat ibarat, keterangan padat

keyakinan batu, penguat dan tekanan, juga argumen bersyahwat

menyeluruh dalam satu testimoni, sangat berkesan.

Menceritakan kembali, kemudian menuliskannya untuk orang orang ;

para pembaca pembaca agung, tuan tuan pengikut.

Pengikut yang malang dan rajin ini seharusnya cepat merdeka.



Namun, yang terpenting dari itu adalah ;

untuk meneguhkan kedudukanmu.

Kau suka sekali ditertawakan, apalagi dikagumi

Kelucuan jadi sebagian disiplin pencarianmu, tanpa itu

kau menganggap seperti tidak berilmu.

- Keindahan itu sesungguhnya pancaran, bukan racikan kekurangan -



Keseriusan? Sebenarnya kita ini orang pemalas, akuilah.

Terlanjur manja berpikir, kurang bergerak, kurang mencari

ingin terhormat dengan cepat, selera hidup urban

jadi raja segala galanya bidadari sejadi-jadinya.

Sementara, apa yang kita sajikan selama ini, sesungguhnya penyakit.

Beris baris yang kita katakan estetik ini penuh dengan panu.

Penyakit ini bisa kita sembuhkan dengan Lampu.



Kalau suatu hari kau pulang ke kampung halaman

dan masih ada sapi atau kambing yang tidur di sebarang tempat

aku tidak begitu jauh dari situ, tidur di sembarang alamat.

Bahasa yang baik tumbuh dari tanah, menjalar ke langit jadi pohon.

Pohon pohon sesungguhnya bekerja menghidupi manusia

dari lengannya yang berat, daun daun menghisap zat

tumbuhlah bunga, buah-buahan makrifat kelak bergantungan.

Tak sedikit pedagang yang menikmati keuntungan pohon bahasa

tapi mereka lupa membaca Basmalah.

Apa hubungan antara Allah dan Pohon yang sedang kau semai dalam jiwamu?



Bismillah..

(mesti kucoba belajar memulainya)

Kau kira (hampir aku berpikir demikian) ini biarlah.

Tapi tidak. Aku lahir karena suatu amanat, khittahku mengusik.

Tanah adalah rakyat, kehendak komunal, asumsi umum

supaya tidak tercipta kesimpangsiuran ; hendaknya kita berpikir populis

tidak sekedar mengungkapkan isi diri, mengeksploitasnya dalam bait sinting.

Lampu yang sejati menerangi jalan jalan rakyat,

tanah bergeliat memberi ruang bagi udara untuk istirahat sejenak.

Aspirasi mesti memiliki kran penyampai yang baik

-untuk soal ini, anggota dewan bukan menjadi bahan pembicaraan kita-

dan Lampu ini banyak terdapat di kampung halaman.

Seringkali anak anak kecil membawanya dengan sarung yang diletak miring,

menyusuri jalan jalan desa siapa tahu terbentur pahala.



Lampu yang menerangi bukan berdasarkan pada praktisnya atau hemat energi

(Kalau kau masih berpikir seperti ini. BODOH, kataku sedikit marah)

Tidak ada yang gratis di dunia ini Kecuali TUHAN,

kebanyakan hanya orang miskin yang bisa memilikiNya.

Kalau kau menafikan statement ini, aku bisa menduga

kau memulainya dengan suatu simpulan keliru bahwa gratis;

telah kau sejajarpadankan dalam bangunan materi. Ini bagian inmateri.

Mendekati Tuhan, sungguh tidak butuh biaya, biaya dalam persepsi manusia.



Sering kita menyaksikan televisi, menurut seorang teman

(yang pemikirannya sudah masuk ke tingkat jauh, -langit terdalam bahkan telah dikuasanya dengan cara berpikir menembus bumi kerendahhatian-

lewat cara menjauh dari godaan sejauh hatinya)

Televisi lah yang sedang menyaksikan kita, sekaligus menyantap kita.

“ketika kau menyaksikan seorang presenter dengan singkapan pahanya yang bersinar,

paha itu tidak akan rusak oleh mata, setajam apapun matakita,

justru sebenarnya paha itu tengah menatap matakita, mengoreknya, menyantapnya,

tembus ke otak, merusak keutuhan pikiran, jalan jalan di dekat,

hingga alamat terjauh yang kita inginkan.

Terhadap sutradara, produser, kameramen yang menghidangkan

sajian seperti ini, aku hanya ingin mengatakan :

selera kalian begitu mengagumkan, mari kita nikmati bersama tuan hewan.



Ada pula kita saksikan, negara kuat menindas negara yang kurang berat

Mengapa negara sering tandas di tangan penjajah

Karena penjajah adalah hasrat lapar selahap lahapnya

dan kita adalah, makanan yang menyerahkan diri tanpa pertanyaan.

Aneh sekali, dan kita tetap setia hidup dalam tembok persoalan seperti ini.



Apa sesungguhnya masalah pelik yang lain di dekat kita? Begini,

Seorang tetanggaku kelaparan, aku berikan sepiring nasi,

esok aku tambah dua piring puisi, esok lagi berember-ember do’a,

kadang kadang aku tawarkan sesendok dosa. (Sesekali aku tergelincir juga).

Bagaimanakah menyusupi puisi kepada manusia yang lapar

dan mengajarkan doa bagi yang belum melebarkan lapangan iman?

Itulah yang jadi masalah, selama ini kita berbagi pada sesama

Pemberian pada tempat yang tidak mesti tapi sangat kita sukai.

Bukan kenyang yang kita dapat, tetapi.. tetapi.. TE-TA-PI...

(pada bagian ini silahkan kau isi titik titik ini dengan jujur tanpa tetapi)



Esoknya, tetangga lain mengadu, ada riba di sana di sini

Ada kemudahan tapi memberatkan. Keberatan tapi diteruskan.

Ada rentanir ada bunga Bank, kreditur berkharisma,

memiliki kendaraan kilat dengan cara cepat tapi membunuh dengan tusukan menawan.

Asuransi?Apakah Arti asuransi?

siapa yang beruntung mengapa kau memilih rugi?

Jagalah kesehatan, ini cara membayar rumah sakit yang baik.

Hati hati bekerja, kurangi merokok (saya perokok yang berat)

Kenakan helm pengaman dalam bekerja, menabunglah dengan rela

supaya anak anak tidak susah sekolah.



Jangan menyuap! Percayalah. Suap itu kelak menghancurkan hidupmu.

Dari segala akibat dan ikhwal sengketa, aku menemukan

Tekanan hidup diawali dari suap.

Gelombang bencana telah menerjang seluruh pintu,

Musuh musuh yang tidak kita ketahui tengah bersetubuh di kamar kita.

Kita tidak pernah tahu itu.



Akuilah.

Kita ini pemalas, malas mengikuti prosedur yang rumit

kita relakan sepuluhriburupiah permeja.

dikalikan lima berpestaporalah setan angkara membuka pintu bencana.

Malas menulis untuk kebaikan dan pengetahuan, kita ciptakan teki teki yang mudah,

supaya orang bingung, dan kau menancap ke langit.

Ilmu buatan manusia yang dimulai oleh mitos

akan diikuti politik pengetahuan manusia melegalkan intervensi.

Tekanan disini tidak terlihat, ia mengolah keingintahuan manusia menjadi uang.

Sebab sebab yang sedemikian dicari, digeneralisir untuk menerapkan azas baru.

Pada akhirnya, pengetahuan yang tidak diperlukan bagi kesinambungan jiwa raga

lebih banyak menguasai dari kebutuhan yang wajib kita miliki.

Jebakan ini dimulai dari sana, kita pengawal bodoh yang memeliharanya.



Akuilah, lampu lampu di kampung halaman jiwa sesungguhnya penuh cahaya

tapi kita malu menghidupinya. Akuilah jika selama ini minyak yang

menghidupi lampu hidupmu, suara suaramu yang kau katakan cemerlang,

tulisan tulisanmu yang megah dan menggetarkan, kepadatan nama,

nama baik atau buruk, terkenal atau tersembunyi dengan cara ria yang lain

adalah minyak hitam yang kau beli dari kemalasan, dengan cara apalagi

harus kutelanjangi tubuh kita ini,

setelah ketukan demi ketukan pintu demi pintu yang kudatangi

tidak saja telah kutampar dengan tapak tanganku tapi telah kuhantam

dengan kepala yang seluruhnya berisi airmata.



(Maaf, aku menangis, bukan oleh terbawa perasaan pada tulisan ini,

tapi tiba tiba aku teringat mantan kekasihku yang baik,

aku lupa mengembalikan uangnya yang aku pinjam).



Suatu kali datang seorang sahabat baik.

“Istrimu sedang hamil, saatnya kau mengikuti asuransi ini itu,

hanya sekian per sekian, ketika mesin kehidupan itu mulai akan keluar

di jalan dunia, kau bisa mengklaim sejumlah perhitungan agar biaya aman”

Ah. Sahabat, sayang sekali, Dalam hidup ini, baik di atas meja atau bukan,

dengan kartu keberuntungan atau tidak, judi mengepung dari segala bentuk,

menawarkan kebaikan untuk membeli kesopanan hidup kita.



Apa hubungan antara Allah dan Pohon yang sedang kau semai dalam jiwamu?

Aku tidak tahu jawaban untukmu, tiap kita harus mencari tahu.

Kunjungilah seluruh buku dari segenap khazanah pustaka

dan mata yang dipenuhi sinar cemburu.

Carilah jawaban dari tiap pertanyaan,

dan ungkapkanlah pertanyaan yang tidak pernah terungkap.



Dimanakah keterikatan Pohon dan Lampu?

Setiap pohon mengingini cahaya agar daun, buah, batang, dan akar kasih sayangnya

tertangkap oleh auramata dan setiap lampu membutuhkan Pohon

agar Lampu tetap tergantung di atas batang keyakinan yang tumbuh

di atas tanah, dan tanah tanah ini adalah kehendak bersama, logika rakyat hamba,

rakyat dan hamba harus saling mengerti satu sama lain, memisahkan perbedaan

keyakinan dengan saling menghormati, menghormati pemimpin yang adil

dan tidak mengadili hamba hamba yang setia pada Tuhan dan pemimpin bermoral.

(terkadang menjadi rakyat juga harus adil, kau faham maksudku)



Terakhir, dulu sekali, aku melihat sajak sajak jujur dan muncul begitu adanya.

Demi si maha kuasa di dunia, kau ubah, kau gubah

kau ringankan kau beratkan, kau samarkan, kau indahkan

dalam persepsi kehendaknya agar diterima disisinya.

Sabtu, 16 Juli 2011

Sebuah Rahasia ~ Kla Project

Seandainya saja mampu bibirku untuk menuai kata
Niscaya hatimu akan terkesima sebuah rahasia
rahasia yg selama ini terpendam dalam harap
satu kumbang merindukan bunga

Seandainya saja lagu tubuhku mudah untuk terbaca
adakah mungkin kau tetap terima hadirnya diriku
diriku yang seolah sekedar sahabatmu
namun sesungguhnya inginkanmu

Tak sanggup (ingin) ku bendung lagi
gelora di hati memilikimu jua bilakah kau akan sadari
cinta yang kau cari ada di depan mata
sampai kapan (tak ingin lagi) harus ku sembunyi dari rasa ini

niscaya hatimu akan terkesima sebuah rahasia
diriku yang seolah sekedar sahabatmu
tempat curahan kesah tangismu di bahu
sesungguhnya hatiku inginkanmu, milikimu jua

Minggu, 17 April 2011

Suara Hatiku

Seperti malam yang selalu hening dan sepi
kini kesunyianpun menyelimuti dinding jiwaku nan rapuh
Kehampaanpun menyusup kerelung sukma
Nelangsa hati terbelenggu gundah

Mengapa seperti ini rasa hatiku
Ingin ku menangis bersuara hingga terdengar oleh telinga raga
Tapi hanya sedu sedan nan tercipta

Begitu besarkah salahku
Yang tersentuh oleh rasamu
Maafkan aku yang begitu lugu hingga tersentuh rasa itu

Jangan marah padaku
Jangan membenciku dengan rasa ini

Kalau boleh memilih ,
tak ingin ku miliki rasa ini
Tak ingin ku mencintaimu
Tapi ku tak kuasa menolak nya
Diammu membuatku semakin merindu,

Aku yakin kamu membaca catatan ini
Walau mungkin kau tak ada di sini

Rabu, 16 Maret 2011

Kau Hanya Terlalu Dangkal Mengenal Diriku

Kau hanya terlalu dangkal mengenal diriku....

Aku menikmati hidupku. Mungkin caraku berbeda dengan kebanyakan orang, kau hanya terlalu dangkal mengenalku. Aku ingin mencoba menjadi apa saja, karena dengan begitu aku merasa bisa berempati dan memahami kehidupan. Pada kenyataanya baik dan buruk, seseorang tidak pernah bisa dinilai dari sekedar prestice, jabatan, atau status.

Tapi buatku, adalah alasan mengapa aku memilih untuk menjalaninya.Manusia tetap manusia, sama saja dihadapan Tuhan, lalu kenapa kita membeda- bedakan ? Seniman, guru, pejabat, bangsat, PSK, pembunuh, mahasiswa, atau gelandangan. Pernahkah kita tahu mengapa mereka memilih menjadi satu diantara pilihan-pilihan itu ? Jangan pernah menghujat kalau tak pernah tahu alasan mereka. Setiap orang memiliki berjuta variabel dalam satu kehidupanya, dan kita cuma butuh alasan yang tepat untuk menjalaninya.

Aku hanya selalu ingin menjadi diriku. Pilihan-pilihanku selalu aneh dan berbeda, karena aku memang tak pernah suka segala hal yang sama atau sesuatu yang terlalu seragam, itu membuatku merasa mati gaya dan tidak kreatif. Aku adalah diriku, dan akan selalu menjadi diriku sampai mati. Jangan pernah memaksa berusaha merubahku, karena kau hanya akan membuatku pecah berkeping-keping dan rusak. Tapi bawalah aku pada realitas yang menarik, tunjukanlah aku sudut-sudut yang indah, gunakan hatimu selembut mungkin maka aku akan luluh dan menemukan bentuk yang kau ingini sendiri tanpa konfrontasi dan benturan. Aku mencari cinta dan ketulusan, bukan kesempurnaan.

Terserah, apapun dan siapapun kamu, ketika kau mampu membuatku jatuh cinta, kau adalah segalanya bagiku. Terserah bagaimanapun orang lain memandangmu, ketika kamu mampu mencintaiku dengan sepenuh hati dan segenap tulus, kau adalah segalanya bagiku. Jadi, jangan pernah berpikir tentang kekuranganmu, tapi bagaimana menjadi yang terbaik untukku.

Aku lelaki biasa bukan apa-apa, dan tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa ridho Allah SWT. Tapi ketika aku mencintaimu, aku akan menjadi apa saja, melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia. Aku akan terus menantang dunia.

Kamis, 10 Maret 2011

Liebe

aku seperti tak punya katakata lain di kepalaku
satusatu puisi lahir dari rahim hujan
hingga kelak akan membuatmu muak, mungkin
debar ini sudah aku isyaratkan supaya terbaca
supaya selaras iramanya dengan jantungmu
: terbiar mengalir begitu saja
jika malam nanti aku katakan lagi sama seperti hari kemarin
rasanya tak perlu kutahu apa yang akan kau bilang
sebuah lagu itu cukup membuatku paham

Minggu, 06 Maret 2011

Air Mata Pria Itu Ketegaran

Siapa bilang pria tak bisa banyak menangis ?
Tahukah engkau, kaum pria sesungguhnya jauh lebih sering "menangis"
Namun mereka menyembunyikan tangisnya di dalam kekuatan akalnya
Itulah mengapa Tuhan menyebutkan pada pria terdapat dua kali lipat akal seorang wanita
Dan itulah sebabnya mengapa tiada yang kau lihat melainkan ketegarannya.
Pria menangis karena tanggung jawabnya di hadapan Tuhannya
Ia menjadi tonggak penyangga rumah tangga
Menjadi pengawal Tuhan bagi Ibu, saudara perempuan, istri atau kekasih dan anak-anaknya
Maka tangisnya tak pernah nampak di bening matanya
Tangis pria adalah pada keringat yang bercucuran demi menafkahi keluarganya
atau menunjukkan tanggung jawabnya kepada kekasihnya
Tak bisa kau lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya
Pria "menangis" dalam letih dan lelahnya menjaga keluarga dan kekasihnya dari kelaparan dan
kelemahan
Tak dapat kau dengar tangisnya pada omelan-omelan di bibirnya
Pria "menangis" dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarga
dan kekasihnya dari terik matahari, deras hujan dan dinginnnya angin malam
Tak nampak tangisnya pada peristiwa-peristiwa kecil dan sepele
Pria "menangis" dalam kemarahannya jika kehormatan diri, keluarga dan kekasihnya digugat
Pria "menangis" dengan sigap bangunnya di kegelapan dini hari
Pria "menangis" dengan bercucuran peluhnya dalam menjemput rizki
Pria "menangis" dengan menjaga dan melindungi orang tua, anak, istri atau kekasihnya
Pria "menangis" dengan tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya
Namun... Pria pun sungguh-sungguh menangis dengan air matanya,
dikesendiriannya menyadari tanggung jawabnya yang besar di hadapan Tuhannya
Pandanglah Ayah ...
Pandanglah Suami ...
Pandanglah kakak ...
Sesungguhnya syurga Allah di dalam keridhaan mereka
Dan jangan sia-siakan pengorbanan seorang pria sebagai kekasih pada kita.